13/11/11

Dari Gubuk Sampai Musala

*Warna-warni Survei Tahap 2

Menjaga amanah itu sungguh berat. Kalo ga dijalankan dengan baik, pertanggungjawabannya bisa sampe akherat. Tapi amanah itu juga yang meringankan kaki ini melangkah. Meski capek, ngantuk, dan pengennya males-malesan menikmati hari libur, hiks hiks...

Sabtu kemaren, kita kembali survei lapangan. Karena semester baru udah makin dekat, saatnya kita drop koin-koin yang makin lama juga makin numpuk. Sebelumnya, data anak yang ada kita pilah-pilah. Susah juga mutusin yang mana dari 50 lebih nama itu yang mau kita tindaklanjuti. Maunya sih semuanya kita bantu, tapi kan ga mungkin. Seenggaknya untuk saat ini, kita terpaksa pake skala prioritas.

Oh ya, berdasarkan hasil urun rembuk kita hari Selasa tanggal 1 November 2011 kemaren, kita udah menyepakati memakai skala prioritas berikut :

1. anak putus sekolah (kayanya ga perlu penjelasan ya kenapa kategori ini ditaroh paling atas)
2. anak rawan putus sekolah (berdasarkan survei, kebanyakan siswa putus sekolah saat mau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, misalnya dari SD ke SMP atau SMP ke SMA. Maklum, kalo mo masuk sekolah itu biasanya kan harus bayar ini bayar itu)
3. siswa SMA (karena SMA ga dapet BOS, jadi siswanya masih harus bayar SPP dan beli buku)
4. siswa SMP (relatif ga banyak pengeluaran, kecuali pas masuknya atau mo lulus)
5. siswa SD (penjelasan sama kaya SMP)

Kita juga mutusin bahwa dalam setahun ini target adik asuh maksimal lima orang aja. Ini mengingat kegiatan kita yang masih baru, kita belum bisa bayangin kaya apa KUB ke depannya, makanya kita ga berani bikin target yang muluk-muluk. Kita sih berharap KUB makin besar, tapi untuk sekarang lebih baik kita jalan pelan-pelan sambil berproses dan melakukan evaluasi-evaluasi supaya KUB makin baik, makin solid, dan makin terarah.

Soal mekanisme pemberian beasiswa, kita juga bikin ketentuan sebagai berikut :

1. Besaran beasiswa
    SMA = Rp 100 ribu perbulan atau Rp 600 ribu persemester
    SMP = Rp 50 ribu perbulan atau Rp 300 ribu persemester
    SD = Rp 25 ribu perbulan atau Rp 150 ribu persemester
Angka-angka ini ke depannya bisa aja bertambah. Sementara kita putuskan nilainya mulai dari kecil dulu, sambil melihat perkembangan keuangan KUB. Kalo langsung ditetapkan besar, takutnya suatu saat koin yang terkumpul berkurang, kan ga lucu kalo beasiswanya malah jadi mengecil
2. Beasiswa diberikan setiap pergantian semester dan bersifat tetap sampe si anak menyelesaikan wajib belajar 12 tahun
3. Beasiswa bersifat meringankan, bukan menanggung sepenuhnya biaya pendidikan anak yang kita bantu selama si anak masih punya orang tua atau keluarga yang sanggup menghidupi. Bagaimanapun, pendidikan seorang anak adalah tanggung jawab orang tua dan keluarganya. Kita ga mau orang tua dan keluarga melupakan kewajibannya tersebut dan melemahkan mental kerja keras mereka kalo kita membantu secara berlebihan
3. Beasiswa tidak diberikan langsung ke adik asuh dalam bentuk uang tunai. Uangnya tetap kita yang pegang, kalo ada yang mesti dibayar baru kita cairkan sesuai kebutuhannya. Kalo ga ada pengeluaran uangnya tetap kita simpan dan jadi tabungan si anak. Ini maksudnya supaya penggunaan uangnya terkontrol.
4. Selain beasiswa, dalam kasus-kasus tertentu, kita bisa memberi bantuan lain sesuai kebutuhan si anak untuk menunjang sekolahnya yang ga sanggup dipenuhi orang tua atau keluarga, misalnya biaya pendaftaran sekolah, uang pangkal, perlengkapan sekolah, tunggakan SPP, transportasi, kebutuhan nutrisi, dll. Kalo kondisi keuangan KUB tidak memungkinkan, maka kita akan carikan solusi, misalnya membuat program kakak asuh atau orangtua asuh

Sooooooooo, dari 50 lebih anak, dengan amat sangat terpaksa akhirnya kita cuma ambil empat nama aja yang masuk survei tahap kedua (karena kita sekarang udah punya satu adik asuh) dan kita kunjungi rumahnya. Tapi ga berarti empat nama ini udah pasti bakal kita bantu lo ya, meskipun menurut kami empat anak ini perlu dibantu.

Di sini, kami mau kasih sedikit gambaran dulu soal profil keempat anak ini. Kami sangat berharap masukan dari teman-teman sekalian apakah mereka memang benar-benar layak jadi adik asuh kita atau kita mesti cari calon yang lain. Here we go...

Seperti biasa, kita start jam 07.30. Rute udah ditetapkan : Cempaka Putih-Kampung Melayu-Pasar Baru-Teluk Dalam. Pertama-tama, kita berkunjung ke rumah Ridhaul Fitri, mantan siswa SMPN 26 Banjarmasin yang lulus tahun 2011 ini tadi dan ga bisa melanjutkan ke SMA karena ga ada biaya. Ridhaul adalah salah satu nama yang direkomendasikan Ibu Dewi, wakil kepala sekolah SMPN 26 waktu pertama kita survei ke sana. Ibu Dewi cerita, pihak sekolah kaget banget waktu melihat mantan muridnya itu jadi tukang yang bantu-bantu perbaikan di SMPN 26. Kita udah ketemu langsung sama anaknya. Meski kata Ibu Dewi prestasinya biasa aja, tapi Ridhaul punya keinginan buat sekolah lagi. Makanya, kita putuskan memasukkan namanya sebagai prioritas.

Ridhaul tinggal di Jl Cempaka Putih Gg 04 No 36 RT 8. Cukup sulit nemuin rumahnya karena jalannya berkelok-kelok, apalagi gara-gara ada penggabungan RT, RT-nya jadi berubah. Sempet salah ketok rumah orang, akhirnya setelah nanya sana sini dan dibantu Ketua RT setempat yang bernama Pak Murjani, kita pun berhasil nemuin rumahnya.



Di tempat yang sebenernya ga layak di sebut rumah inilah ternyata Ridhaul tinggal dengan bapaknya, yang menurut Pak Murjani sudah tua dan bekerja serabutan. Sedangkan ibu Ridhaul sudah meninggal. Rumah ini juga bukan punya orangtuanya Ridhaul, tapi punya tetangga di depannya yang dipinjamkan karena kasian ngeliat kondisi keluarganya. Sayang, waktu kita ke rumahnya, bapaknya ga ada di tempat.


Ridhaul ini anak ketiga dari tiga bersaudara, dua kakaknya udah menikah, tapi hidupnya juga ga lebih baik. Terkadang, Ridhaul ikut tidur dan makan di rumah salah satu kakaknya yang perempuan di Jl Pekapuran. Suami kakaknya itu tuna netra dan mencari nafkah sebagai tukang urut.


Berikutnya, target kedua adalah Dwi Novi Setyawan, murid kelas XI IPA 2 SMAN 3 Banjarmasin. Dwi kita pilih karena dari keterangan yang dia tulis di formulir, ayahnya sudah meninggal dan ibunya bekerja sebagai tukang setrika. Dwi tinggal di Jl Kampung Melayu Darat Gg Kenari I No 18 RT 35.


 


Sampe di rumahnya, kita disambut sama ibunya Dwi. Lalu, mengalirlah cerita dari beliau yang cukup bikin miris. Ayah Dwi meninggal karena komplikasi, pas banget waktu Dwi dan saudara kembarnya (namanya Dwi Nova Setyadi, kelas dua di SMK Muhammadiyah 2) baru masuk SMA. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi keluarga Dwi setelah ayahnya yang cuma pegawai swasta biasa ga ada. Sudah habis banyak buat biaya berobat, kreditan kendaraan belum lunas, masih ditambah dua anak yang mesti dibiayai sekolahnya, SMA lagi. Akhirnya, menurut cerita ibunya Dwi, barang-barang di rumah pun dijualin.


Sekarang, buat makan sehari-hari, keluarga Dwi mengandalkan penghasilan dari menyewakan kamar-kamar di rumahnya. Jumlahnya ada tujuh buah, masing-masing disewakan dengan tarif Rp 175 ribu perbulan. Menurut ibunya Dwi, dalam sebulan pendapatan dari penyewaan kamar itu sekitar Rp 1,5 juta, dari uang itu Rp 500 ribu dibayarkan untuk listrik dan air. Dwi punya satu kakak perempuan lagi, udah menikah dan kerja, tapi ya cuma cukup buat hidup dia aja. Beberapa kali Dwi dan kakak kembarnya menunggak SPP yang besarnya masing-masing Rp 100 ribu perbulan. Kayak sekarang nih, kembarannya Dwi udah nunggak tiga bulan.


Masih dari cerita ibunya Dwi, sekilas kayanya Dwi ini lumayan pintar. Kita sih belum liat rapornya, tapi ibunya cerita kalo Dwi pernah menang bintang pelajar yang diadain telkomsel dan primagama. Waktu itu Dwi dapat hadiah potongan biaya bimbel di primagama, tapi karena ibunya lagi ada duit, Dwi pun akhirnya ga bisa ikut bimbel itu.


Selesai wawancara singkat dengan ibunya Dwi, perjalanan berlanjut ke target ketiga. Namanya Fatimah, siswa kelas X D SMAN 3 Banjarmasin. Alamat rumahnya tertulis Jl Taman Sari No 18 Pasar Baru. Pekerjaan bapaknya penjaga toilet. Jujur, ini target yang paling bikin kita penasaran. Kebayang aja tinggalnya di pasar, udah gitu bapaknya penjaga toilet lagi.


Awalnya, kita agak bingung juga nyari rumahnya Dwi, di tengah pasar gitu. Trus, di bagian belakang pasar, kita nemu sebuah bangunan bernomor 18, cuma bukan rumah, tapi musala. Pas ngeliat ada ibu-ibu lagi ngumpul di warung, kita tanya aja. Untung ada yang kenal sama Fatimah, trus kita dianterin buat ketemu bapaknya Fatimah.


Ternyata, bapaknya Fatimah emang bener-bener penjaga toilet. Dan akhirnya wawancara pun digelar di depan toilet. Untung toiletnya bersih dan ga bau. Keluarga Fatimah udah lama tinggal di Pasar Baru. Bapaknya Fatimah mengaku dulu pernah dipenjara (kita ga nanya kejahatannya apa), trus setelah bebas dan ga punya kerjaan, beliau ditawari jadi penjaga toilet, bergantian dengan petugas yang lain setiap dua hari. Upahnya Rp 30 ribu perhari.


Abis wawancara, kita lalu minta izin ngeliat rumah tempat beliau dan Fatimah tinggal. Dan tau ga ternyata dimana rumahnya? Di sebuah kamar sempit, di dalam musala yang tadi kita liat.





Bener-bener di luar dari apa yang kita bayangin. Sebelumnya, keluarga Fatimah menyewa sebuah rumah di sebelah musala ini. Dulu musala ini belum ada. Sekitar delapan tahun lalu, pasar mengalami kebakaran hebat dan menghanguskan rumah keluarga Fatimah. Setelah kebakaran, baru musala yang sekarang ditinggali Fatimah dan bapaknya dibangun pemerintah. Di sinilah Fatimah dan bapaknya tinggal. Berdua aja. Ibunya, setelah bapaknya Fatimah ditahan, tinggal sama orangtuanya di Sungai Tabuk sampe sekarang. Fatimah anak kedua dari dua bersaudara.


Oke, kita tinggalkan rumah Fatimah, dan lanjut ke target terakhir. Yang satu ini sebenernya di luar dari hasil survei kita ke sekolah-sekolah kemaren. Ceritanya, kita ga sengaja ketemu Pak Syalimi, seorang pensiuan tentara. Menurut cerita beliau, pangkat terakhirnya kopral. Setiap bulannya dapat tunjangan, tapi cuma cukup buat makan dan bayar sewa rumah. Kata Pak Syalimi, dulu beliau punya rumah sendiri, tapi terjual buat ongkos berobat istrinya. Beliau punya satu anak perempuan yang tahun 2011 ini tadi baru lulus SMP, tapi ga bisa melanjutkan ke SMA karena ga ada biaya.


Waktu kita ke rumah Pak Syalimi di Jl Bukit Raya No 2A Teluk Dalam, pertamanya kita agak kaget pas ngeliat rumah-rumah di situ yang pada bagus-bagus. Berapa meter dari mulut jalan, ada sebuah rumah beton yang gede banget, katanya punya keluarga salah seorang mantan gubernur dulu. Nah, tepat di samping rumah inilah, Pak Syalimi yang pendengarannya sudah berkurang itu tinggal di sebuah rumah sempit bersama istri dan dua dari empat anaknya.





Anak Pak Syalimi yang putus sekolah namanya Riska Juniska. Sebelumnya Riska sekolah di SMP Kartika. Waktu kita liat ijazahnya, nilai-nilai Riska agak kurang bagus. Trus yang bikin kita agak ga simpatik, penampilannya Riska itu loh, modis banget buat ukuran rumah dan kondisi keluarganya. Selain itu, Pak Syalimi juga ga terbuka waktu kita tanya berapa sebenernya besaran tunjangan yang dia terima dan pengeluaran perbulan.


Hm, gitu deh yang bisa kita ceritain dari survei tahap kedua hari Sabtu kemaren. Penuh warna-warni, kejutan, dan hal-hal ga terduga. Sekali lagi, keempat anak ini belum tentu akan jadi anak asuh kita, kecuali kalo semua setuju dan sepakat. Makanya, kami perlu banget komentar dan masukan dari teman-teman sekalian, apakah semuanya layak kita bantu atau ga?


Ditunggu ya !!

2 komentar:

  1. oke, komen saya, yg terakhir ga ush dimasukin, bukannya apa2 ya, klo dilihat dr penampilannya, dianya sendri aja ga sadar ama kondisi kehidupannya, so buat apa Qt bantu anak spt itu, apalagi msh byk daftar tunggu anak2 yg lain yg bisa jauh lbh diprioritaskan :)

    BalasHapus
  2. sepakat untuk yg terakhir. kita punya target lain yg bs dipilih dibandingkan dia :)

    BalasHapus