31/03/12

Tentang Candra dan Ema

Candra adalah kawan satu sekolah Rahmat (kakaknya Iman, salah satu adik asuh KUB) di PGRI 2 Banjarmasin. Berdasarkan rekomendasi dari guru-gurunya, tim Koin untuk Banua berkunjung ke rumah Candra di Jalan RK Ilir Gg. Ilham RT. 21 untuk bersilaturahim (baca: survei) agar dapat mengenal Candra dan keluarganya lebih jauh. Benar saja, kehidupan keluarganya cukup memprihatinkan. Jangankan memiliki televisi, kondisi rumahnya saja cocok direkomendasikan untuk bedah rumah. Tidak ada benda berharga di dalamnya. Jika air sungai pasang tinggi atau meluap, bisa dipastikan rumah yang berada di tepi sungai ini akan tergenang.

kondisi rumah keluarga Candra


Saat berkunjung, abah Candra sedang tidak di rumah. Jadi, aku berbincang dengan mamanya. Berdasarkan cerita beliau, Candra yang lahir tahun 1991 ini sempat ‘istirahat’ sekolah karena tidak ada biaya. Candra merupakan anak yang supel dan di sekolah secara akademik termasuk siswa yang selalu masuk rangking 3 besar di kelasnya. Pendidikan agamanya pun Insya Allah bagus, ucap mamanya bangga.

Candra merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Orang tua Candra bekerja sebagai pemulung gelas-gelas plastik. Kakak Candra bekerja sebagai buruh di pabrik rotan. Dua orang adik Candra bersekolah di SD, dua lainnya belum bersekolah.

Ema, adik Candra yang berusia 12 tahun menarik perhatianku. Sampai saat ini Ema tidak bersekolah karena Ema penyandang retardasi mental (down syndrom). Sebenarnya, Ema sempat diminta bersekolah di sebuah SLB yang terletak di daerah Trisakti tanpa dipungut biaya. Tapi, karena letaknya yang jauh dan keterbatasan transportasi, akhirnya Ema yang sudah memasuki pubertas ini hanya tinggal di rumah.

Keluarga Candra tidak memiliki banyak pengetahuan tentang down syndrom tidak bisa berbuat banyak dalam perkembangan Ema. Hal ini membuat Ema amat tergantung dengan orang tuanya, mulai makan sampai mandi. Ema juga cukup sulit diajak berkomunikasi meski dia suka mengajak orang untuk berkomunikasi dengannya. Ema anak yang cerdas hanya saja kurang mendapat bimbingan/pembelajaran. Buktinya, Ema suka bermain kartu bergambar dan dia mengerti ketika disuruh salim dengan mencium tangan.

Terkadang, di hari minggu Candra mendapat tambahan uang dari membantu shooting video perkawinan. “Lumayan, Ka. Dapatnya sekitar seratus ribu. Tapi tidak setiap minggu dapat gawian ini,” begitu katanya.

Masalah paling urgent untuk Candra adalah transportasi. Dulu, Candra dan Rahmat merupakan kawan berjalan kaki pergi dan pulang sekolah. Perjalanan dari RK Ilir ke PGRI 2 memakan waktu sekitar 25 menit jalan kaki. Inilah rutinitas Candra sehari-hari selama bersekolah.

1 komentar:

  1. Terenyuk baca perjuangannya Candra untuk sekolah. InsyaAllah akan selalu ada jalan untuk Candra supaya lebih baik :)

    BalasHapus