Candra adalah kawan satu sekolah Rahmat (kakaknya
Iman, salah satu adik asuh KUB) di PGRI 2 Banjarmasin. Berdasarkan rekomendasi
dari guru-gurunya, tim Koin untuk Banua berkunjung ke rumah Candra di Jalan RK
Ilir Gg. Ilham RT. 21 untuk bersilaturahim (baca: survei) agar dapat mengenal
Candra dan keluarganya lebih jauh. Benar saja, kehidupan keluarganya cukup
memprihatinkan. Jangankan memiliki televisi, kondisi rumahnya saja cocok
direkomendasikan untuk bedah rumah. Tidak ada benda berharga di dalamnya. Jika air
sungai pasang tinggi atau meluap, bisa dipastikan rumah yang berada di tepi
sungai ini akan tergenang.
kondisi rumah keluarga Candra
Saat
berkunjung, abah Candra sedang tidak di rumah. Jadi, aku berbincang dengan
mamanya. Berdasarkan cerita beliau, Candra yang lahir tahun 1991 ini sempat ‘istirahat’
sekolah karena tidak ada biaya. Candra merupakan anak yang supel dan di sekolah
secara akademik termasuk siswa yang selalu masuk rangking 3 besar di kelasnya. Pendidikan
agamanya pun Insya Allah bagus, ucap mamanya bangga.
Candra merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Orang tua Candra bekerja sebagai pemulung gelas-gelas plastik. Kakak Candra bekerja sebagai buruh di pabrik rotan. Dua orang adik Candra bersekolah di SD, dua lainnya belum bersekolah.
Candra merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Orang tua Candra bekerja sebagai pemulung gelas-gelas plastik. Kakak Candra bekerja sebagai buruh di pabrik rotan. Dua orang adik Candra bersekolah di SD, dua lainnya belum bersekolah.
Ema, adik Candra yang berusia 12 tahun menarik
perhatianku. Sampai saat ini Ema tidak bersekolah karena Ema penyandang
retardasi mental (down syndrom). Sebenarnya, Ema sempat diminta bersekolah di
sebuah SLB yang terletak di daerah Trisakti tanpa dipungut biaya. Tapi, karena
letaknya yang jauh dan keterbatasan transportasi, akhirnya Ema yang sudah memasuki
pubertas ini hanya tinggal di rumah.
Keluarga Candra tidak memiliki banyak pengetahuan
tentang down syndrom tidak bisa berbuat banyak dalam perkembangan Ema. Hal ini
membuat Ema amat tergantung dengan orang tuanya, mulai makan sampai mandi. Ema juga
cukup sulit diajak berkomunikasi meski dia suka mengajak orang untuk
berkomunikasi dengannya. Ema anak yang cerdas hanya saja kurang mendapat
bimbingan/pembelajaran. Buktinya, Ema suka bermain kartu bergambar dan dia mengerti
ketika disuruh salim dengan mencium tangan.
Terkadang, di
hari minggu Candra mendapat tambahan uang dari membantu shooting video perkawinan. “Lumayan, Ka. Dapatnya sekitar seratus
ribu. Tapi tidak setiap minggu dapat gawian ini,” begitu katanya.
Masalah paling
urgent untuk Candra adalah transportasi.
Dulu, Candra dan Rahmat merupakan kawan berjalan kaki pergi dan pulang sekolah.
Perjalanan dari RK Ilir ke PGRI 2 memakan waktu sekitar 25 menit jalan kaki. Inilah
rutinitas Candra sehari-hari selama bersekolah.


Terenyuk baca perjuangannya Candra untuk sekolah. InsyaAllah akan selalu ada jalan untuk Candra supaya lebih baik :)
BalasHapus