Sungai Pembunuhan. Entah mengapa kampung
yang terletak di Tinggiran II Luar, Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala
tersebut dinamakan demikian. Kampung ini mulai banyak dikenal ketika ada
penduduknya muncul di reality show yang ditayangkan di Trans7. Padahal,
letaknya persis di seberang Pulau Kembang, salah satu obyek wisata andalan
Kalimantan Selatan yang cukup sering kudatangi.
Acil Niah dan Iwan, anaknya, merekalah tokoh
di reality show Orang Pinggiran dan IndonesiaKu. Tim Koin untuk Benua beberapa
waktu lalu berkesempatan berkunjung ke rumah acil Niah dan melihat kondisi
masyarakat di Sungai Pembunuhan untuk survei kecil-kecilan sekalian nge-bolang.
Tidak berani menjanjikan apa-apa kepada mereka memang, tapi semoga kunjungan
ini ada manfaatnya, untuk kami, juga mereka.
Acil Niah dan ke empat anaknya (Iwan, Imay, Madi, Rahmah)
Sebenarnya sempat sangsi bisa sampai di
Sungai Pembunuhan tanpa mengalami kesulitan. Untungnya, Mas Budi, salah seorang
kru Trans7 membantu agar kami bisa sampai disana tanpa perlu tersesat.
Kami dijemput Pak Arul dengan kelotoknya
di pelabuhan kelotok yang terletak persis di seberang makam Pangeran
Suriansyah. Ketika melewati Pulau Kembang, terlihat monyet-monyet penghuni Pulau
Kembang menyambut para wisatawan yang datang untuk mengunjungi mereka. Tidak sampai
sepuluh menit, sampailah kami di kampung yang banyak penduduknya mendirikan
rumah panggung di atas sungai dan antar rumah dihubungkan dengan titian dari
kayu ini.
Kami diantar Pak Arul langsung ke rumah
Acil Niah.
“Iwan di sekolah,” kata Imay, adik Iwan
yang paling besar, kelas 4 SD.
Acil Niah lalu mengantar kami ke sekolah
Iwan, SMPN 3 Tamban, yang berjarak sekitar tiga menit berjalan kaki. Selain
menemui Iwan, sekalian saja mengobrol dengan guru-gurunya, mumpung mereka masih
berada di sekolah.
Berdasarkan cerita guru-gurunya, secara
akademik Iwan standar lah. Tidak menonjol, tidak pula berada di urutan bawah.
Namun, Iwan menonjol di bidang seni. Iwan piawai menciptakan lagu juga bermain
drama/teater. Iwan ingin sekali bisa ikut sanggar drama, namun apa daya, di
Tinggiran II Luar tidak ada tempat semacam itu. Oh ya, lagu ciptaan Iwan pernah
dibeli oleh band asal Medan seharga dua juta untuk satu album. Iwan juga
menyanyikan beberapa bait lagu ciptaannya di hadapan kami. Lagu ciptaannya itu terdengar
Melayu mendayu-dayu, seperti lagu-lagunya Kangen Band atau ST 12.
SMPN 3 Tamban
“Uangnya dipakai buat bayar hutang,
membaiki rumah, dan modal jualan,” jelas Iwan saat ditanya dia gunakan untuk
apa uang hasil penjualan lagu ciptaannya itu.
Bagi yang belum tahu kisah si Iwan,
sepulang sekolah Iwan biasanya jualan aksesoris perempuan seperti ikat rambut
dan bando keliling kampung. Berjalan kaki 10-20 km menjajakan jualan sudah
biasa bagi Iwan. Tapi, sudah beberapa hari Iwan libur jualan. Selain untuk
mempersiapkan diri mengikuti ujian sekolah, Iwan sedang kehabisan modal.
Selain berbincang dengan keluarga dan
guru-guru Iwan, kami diajak Pak Arul bertemu dengan ibu Muzakkir. Suami beliau
lah (Pak Muzakkir) yang selama ini menghubungkan warga kampung dengan kru
Trans7. Saat itu Pak Muzakkir sedang berada di Jakarta, makanya istri beliaulah
yang menceritakan banyak hal tentang pendidikan dan kondisi sosial kampung
tersebut.
Bu Muzakkir yang menutupi kehidupan
keluarganya dengan berjualan makanan untuk sarapan (seperti buras dan lontong)
membawa kami bersilaturahim ke rumah Lini, siswi kelas XII MA Nurul Khair,
Subarjo. Menurut cerita bu Muzakkir, rumah orang tua Lini pernah mendapat janji
akan dibedah saat mendapat kunjungan dari orang kabupaten karena kondisinya
yang memang memprihatinkan. Tapi, sampai sekarang hal itu belum terealisasi.
Tidak seperti kebanyakan anak usia SMA di
kampung tersebut, Lini cukup beruntung karena tetap bersekolah. Padahal, orang
tuanya hanya buruh tani yang penghasilannya kadang tidak dapat mencukupi
kebutuhan sehari-hari.
“Karena dia ingin sekali sekolah, maka
apapun kami usahakan demi dia,” begitu kata orang tuanya
Alasan mengapa banyak anak di kampung ini
tidak melanjutkan ke jenjang SMA/sederajat sebenarnya tidak hanya karena
masalah ekonomi. Tidak adanya SMA/sederajat di kampung tersebutlah faktor
utamanya. Tidak seperti SD atau SMP negeri yang berlokasi di kampung tersebut,
SMA/sederajat terdekat dari kampung tersebut berjarak sekitar 1 jam perjalanan
mengenjot sepeda, itu pun dengan kondisi jalan yang tidak karuan.
“Jarang sepeda Lini benar-benar bersih
akibat jalan yang berdebu di musim kemarau dan berlumpur di musim hujan,”
begitu curhat ibunya.
Selain MA Nurul Khair, pilihan terdekat
lainnya adalah menyeberangi Sungai Barito, yaitu bersekolah ke Banjarmasin.
Namun, tidak semua penduduk sanggup menyekolahkan anaknya ke sana. Selain
karena biaya sekolah di Banjarmasin yang cukup tinggi (sebagai pembanding,
untuk iuran komite di sekolah Lini Rp 30.000/bulan, SMA tempatku mengajar
termasuk yang termurah di Banjarmasin, Rp 90.000/bulan), mereka harus
memperhitungkan ongkos klotok pergi pulang ke sekolah yang berkisar Rp 70.000 –
Rp 80.000/bulan, belum uang perjalanan menuju sekolah (karena SMA yang berada
di sekitar sana tidak ada yang terletak di pinggir sungai), serta uang jajan.
Sedikitnya Rp 600.000/bulan harus disisihkan jika ingin menyekolahkan anak
mereka ke Banjarmasin.
Perjalanan ke Banjarmasin sebenarnya bisa
dilakukan lewat jalan darat, yaitu memutar cukup jauh melewati jembatan yang
ada di Banjar Raya (dekat pelabuhan Trisakti). Pilihan ini tentu juga sulit
karena sarana transportasi yang mereka miliki terbatas. Hal-hal inilah yang memberatkan
bagi pendudukan kampung yang mayoritas berada di bawah garis kemiskinan untuk
menyekolahkan anak mereka ke jenjang SMA/sederajat.
Pastinya tidak sedikit anak-anak di
kampung ini memiliki semangat yang tinggi untuk bersekolah. Ketika bertanya
kepada Iwan jika dia memiliki kesempatan untuk bersekolah ke Banjarmasin,
bagaimana cara dia mengusakan untuk pergi pulang ke sekolah, Iwan menjawab,
“Aku akan bersepeda ke sekolah, Kak. Tidak
apa jauh, yang penting aku sekolah.
“Jika tidak bisa bersekolah ke
Banjarmasin?”
“Aku ikut sekolah paket atau sekolah
terbuka yang ada di Tamban. Jadi, aku tetap bisa sekolah dan jualan.”
Sungai Pembunuhan bukanlah kampung
terpencil yang berpenduduk sedikit dan sulit didatangi. Sinyal telepon seluler
yang memungkinkan anak-anaknya mengakses jaringan internet untuk
ber-facebook-an saja dapat mudah diterima. Sangat disayangkan bukan jika anak-anak
yang memiliki semangat begitu tinggi untuk menuntut ilmu seperti mereka harus
putus sekolah karena ketiadaan biaya dan sarana/prasarana?
Langsung netesin air mata begitu selesai membacanya. Begitu beruntungnya kita yang bisa bersekolah dengan mudahnya. Semoga disana bisa secepatnya dibangunkan sekolah SMA :)
BalasHapus