30/03/12

SMA untuk Mereka (Cerita dari Sungai Pembunuhan)

Sungai Pembunuhan. Entah mengapa kampung yang terletak di Tinggiran II Luar, Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala tersebut dinamakan demikian. Kampung ini mulai banyak dikenal ketika ada penduduknya muncul di reality show yang ditayangkan di Trans7. Padahal, letaknya persis di seberang Pulau Kembang, salah satu obyek wisata andalan Kalimantan Selatan yang cukup sering kudatangi.

Acil Niah dan Iwan, anaknya, merekalah tokoh di reality show Orang Pinggiran dan IndonesiaKu. Tim Koin untuk Benua beberapa waktu lalu berkesempatan berkunjung ke rumah acil Niah dan melihat kondisi masyarakat di Sungai Pembunuhan untuk survei kecil-kecilan sekalian nge-bolang. Tidak berani menjanjikan apa-apa kepada mereka memang, tapi semoga kunjungan ini ada manfaatnya, untuk kami, juga mereka.

Acil Niah dan ke empat anaknya (Iwan, Imay, Madi, Rahmah)

Sebenarnya sempat sangsi bisa sampai di Sungai Pembunuhan tanpa mengalami kesulitan. Untungnya, Mas Budi, salah seorang kru Trans7 membantu agar kami bisa sampai disana tanpa perlu tersesat.

Kami dijemput Pak Arul dengan kelotoknya di pelabuhan kelotok yang terletak persis di seberang makam Pangeran Suriansyah. Ketika melewati Pulau Kembang, terlihat monyet-monyet penghuni Pulau Kembang menyambut para wisatawan yang datang untuk mengunjungi mereka. Tidak sampai sepuluh menit, sampailah kami di kampung yang banyak penduduknya mendirikan rumah panggung di atas sungai dan antar rumah dihubungkan dengan titian dari kayu ini.

Kami diantar Pak Arul langsung ke rumah Acil Niah.

“Iwan di sekolah,” kata Imay, adik Iwan yang paling besar, kelas 4 SD.

Acil Niah lalu mengantar kami ke sekolah Iwan, SMPN 3 Tamban, yang berjarak sekitar tiga menit berjalan kaki. Selain menemui Iwan, sekalian saja mengobrol dengan guru-gurunya, mumpung mereka masih berada di sekolah.

Berdasarkan cerita guru-gurunya, secara akademik Iwan standar lah. Tidak menonjol, tidak pula berada di urutan bawah. Namun, Iwan menonjol di bidang seni. Iwan piawai menciptakan lagu juga bermain drama/teater. Iwan ingin sekali bisa ikut sanggar drama, namun apa daya, di Tinggiran II Luar tidak ada tempat semacam itu. Oh ya, lagu ciptaan Iwan pernah dibeli oleh band asal Medan seharga dua juta untuk satu album. Iwan juga menyanyikan beberapa bait lagu ciptaannya di hadapan kami. Lagu ciptaannya itu terdengar Melayu mendayu-dayu, seperti lagu-lagunya Kangen Band atau ST 12.

SMPN 3 Tamban
 

“Uangnya dipakai buat bayar hutang, membaiki rumah, dan modal jualan,” jelas Iwan saat ditanya dia gunakan untuk apa uang hasil penjualan lagu ciptaannya itu.

Bagi yang belum tahu kisah si Iwan, sepulang sekolah Iwan biasanya jualan aksesoris perempuan seperti ikat rambut dan bando keliling kampung. Berjalan kaki 10-20 km menjajakan jualan sudah biasa bagi Iwan. Tapi, sudah beberapa hari Iwan libur jualan. Selain untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian sekolah, Iwan sedang kehabisan modal.

Selain berbincang dengan keluarga dan guru-guru Iwan, kami diajak Pak Arul bertemu dengan ibu Muzakkir. Suami beliau lah (Pak Muzakkir) yang selama ini menghubungkan warga kampung dengan kru Trans7. Saat itu Pak Muzakkir sedang berada di Jakarta, makanya istri beliaulah yang menceritakan banyak hal tentang pendidikan dan kondisi sosial kampung tersebut.

Bu Muzakkir yang menutupi kehidupan keluarganya dengan berjualan makanan untuk sarapan (seperti buras dan lontong) membawa kami bersilaturahim ke rumah Lini, siswi kelas XII MA Nurul Khair, Subarjo. Menurut cerita bu Muzakkir, rumah orang tua Lini pernah mendapat janji akan dibedah saat mendapat kunjungan dari orang kabupaten karena kondisinya yang memang memprihatinkan. Tapi, sampai sekarang hal itu belum terealisasi.

Tidak seperti kebanyakan anak usia SMA di kampung tersebut, Lini cukup beruntung karena tetap bersekolah. Padahal, orang tuanya hanya buruh tani yang penghasilannya kadang tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Karena dia ingin sekali sekolah, maka apapun kami usahakan demi dia,” begitu kata orang tuanya

Alasan mengapa banyak anak di kampung ini tidak melanjutkan ke jenjang SMA/sederajat sebenarnya tidak hanya karena masalah ekonomi. Tidak adanya SMA/sederajat di kampung tersebutlah faktor utamanya. Tidak seperti SD atau SMP negeri yang berlokasi di kampung tersebut, SMA/sederajat terdekat dari kampung tersebut berjarak sekitar 1 jam perjalanan mengenjot sepeda, itu pun dengan kondisi jalan yang tidak karuan.

“Jarang sepeda Lini benar-benar bersih akibat jalan yang berdebu di musim kemarau dan berlumpur di musim hujan,” begitu curhat ibunya.

Selain MA Nurul Khair, pilihan terdekat lainnya adalah menyeberangi Sungai Barito, yaitu bersekolah ke Banjarmasin. Namun, tidak semua penduduk sanggup menyekolahkan anaknya ke sana. Selain karena biaya sekolah di Banjarmasin yang cukup tinggi (sebagai pembanding, untuk iuran komite di sekolah Lini Rp 30.000/bulan, SMA tempatku mengajar termasuk yang termurah di Banjarmasin, Rp 90.000/bulan), mereka harus memperhitungkan ongkos klotok pergi pulang ke sekolah yang berkisar Rp 70.000 – Rp 80.000/bulan, belum uang perjalanan menuju sekolah (karena SMA yang berada di sekitar sana tidak ada yang terletak di pinggir sungai), serta uang jajan. Sedikitnya Rp 600.000/bulan harus disisihkan jika ingin menyekolahkan anak mereka ke Banjarmasin.

Perjalanan ke Banjarmasin sebenarnya bisa dilakukan lewat jalan darat, yaitu memutar cukup jauh melewati jembatan yang ada di Banjar Raya (dekat pelabuhan Trisakti). Pilihan ini tentu juga sulit karena sarana transportasi yang mereka miliki terbatas. Hal-hal inilah yang memberatkan bagi pendudukan kampung yang mayoritas berada di bawah garis kemiskinan untuk menyekolahkan anak mereka ke jenjang SMA/sederajat.

Pastinya tidak sedikit anak-anak di kampung ini memiliki semangat yang tinggi untuk bersekolah. Ketika bertanya kepada Iwan jika dia memiliki kesempatan untuk bersekolah ke Banjarmasin, bagaimana cara dia mengusakan untuk pergi pulang ke sekolah, Iwan menjawab,

“Aku akan bersepeda ke sekolah, Kak. Tidak apa jauh, yang penting aku sekolah.
“Jika tidak bisa bersekolah ke Banjarmasin?”
“Aku ikut sekolah paket atau sekolah terbuka yang ada di Tamban. Jadi, aku tetap bisa sekolah dan jualan.”

Sungai Pembunuhan bukanlah kampung terpencil yang berpenduduk sedikit dan sulit didatangi. Sinyal telepon seluler yang memungkinkan anak-anaknya mengakses jaringan internet untuk ber-facebook-an saja dapat mudah diterima. Sangat disayangkan bukan jika anak-anak yang memiliki semangat begitu tinggi untuk menuntut ilmu seperti mereka harus putus sekolah karena ketiadaan biaya dan sarana/prasarana?

1 komentar:

  1. Langsung netesin air mata begitu selesai membacanya. Begitu beruntungnya kita yang bisa bersekolah dengan mudahnya. Semoga disana bisa secepatnya dibangunkan sekolah SMA :)

    BalasHapus